Kantor ke dua ( Part 1 )

Aku kalau di sana tuh yaa..nyaman sama pekerjaannya, hampir semua tugas yang dikasihkan ke aku adalah sesuatu yang aku suka. Jadi aku seneng ngerjainnya..”

Itu adalah kalimat yang aku pernah sampaikan pada teman di kantor pertama atas tugas-tugasku di kantor ke dua. Sampai hari ini aku masih ngantor di dua tempat ( ngajar di 2 sekolah ) bukan karena serakah tapi karena dua kantor ini memiliki arti tersendiri dalam perjalanan karirku dan memang rasanya belum tepat untuk melapaskan salah satu di waktu sekarang-sekarang ini. Kantor pertama adalah tempat pertamaku mengajar di sebuah sekolah setelah aku lulus kuliah. Tempat pertama aku dipanggil bu guru.

Sedangkan kantor ke dua adalah sekolah pertama di mana aku mengajar sesuai konsentrasiku. Di sinilah pertama kali aku mengajarkan ALKANA, Alkena dan Alkuna dalam kapasitas sebagai bu guru bukan mbak tentor. 

Sebenarnya pertemuanku dengan kantor ke dua adalah sebuah ketidaksengajaan. Tidak ada niatan serius untuk meninggalkan kantor pertama dan mencari kantor ke dua, meskipun keadaan kantor pertama bisa dibilang memperihatinkan. Kedatanganku di kantor ke dua sebenarnya adalah sebuah “coba-coba” yang kemudian jadi keterusan.

Bermula dari obrolan ringan di sela-sela pergantian jam, dengan teman-teman semasa jadi mbak tentor di bimbingan belajar terkemuka di kota kami. Dari situ aku bilang ” ehhh aku lah kepengin ngajar kimia di sekolah..aku di SMP kan ngajarnya IPA. Kepengin gitu ngajar yang sesuai jurusanku”. Ini yang membuat temanku memberikan informasi bahwa nun jauh di sana ada sekolah yang sedang membutuhkan guru kimia. Temanku pun tidak sengaja mencari- cari info untukku. Dia hanya pernah ngobrol dengan seseorang yang baru dikenal di sebuah acara rekrutmen guru di wilayah kantor ke dua itu.

Beberapa Ketidaksengajaan itu akhirnya membawaku sampai saat ini berada di kantor ke dua yang sebenarnya cukup jauh dari rumahku. Aku perlu waktu setidaknya 35 menit untuk sampai di sana dengan mengendarai motor, itupun dengan kecepatan standar dan dalam keadaan normal tidak ngantuk. Awalnya hanya sehari dalam satu minggu aku ngantor di sana. Kemudian menjadi 3 hari dalam seminggu dan sekarang 4hari dalam seminggu. Bahkan adik bungsuku sekarang sekolah di sana juga. Aku memang senang dengan pekerjaanku di sana. Setidaknya tiga tahun aku mencari dan menunggu untuk bisa mengajar kimia di sekolah. Aku benar-benar menikmati setiap kelasku di sana. Aku juga menikmati tugas tambahan yang diberikan padaku. Tidak terlalu kuhitung nominal hasilnya, bagiku rezeki tidak hanya dari gaji bisa dari yang lain. Toh andaikan kurang masih bisa kucari kurangnya di tempat lain, yang penting aku merasa nyaman dengan pekerjaanku. 

Ada kepuasan tersendiri ketika bisa mengantarkan mereka mendapatkan nilai tertinggi, pulang membawa tropi, dan diterima di universitas negeri sampai lolos bidikmisi. Bahkan pulang pergi naik motor Semarang- Purwokerto pun pernah saya lakoni untuk negosiasi uang kuliah yang menurut siswa kami terlalu tinggi. Tidak ada keterpaksaan, aku senang melakoninya. 

Aku sering bilang ke teman-teman di kantor pertama bahwa aku senang dengan tugas-tugasku di kantor ke dua itu. It’s my passion. 

Beberapa kali teman di kantor kedua ngledek ” pindah sini aja sana dilepas, kan lebih sering di sini “.

Tapi entahlah aku belum ingin melepas kantor pertama. Kondisi kantor pertama jauh dari kata stabil, rasanya belum seharusnya ditinggal begitu saja. Bagaimnapun kantor pertama adalah tempat pertama yang mengajarkan banyak hal, dan memberikan pengalaman berharga dalam dunia pendidikan.

Lagipula, roda kehidupan itu berputar senang bisa saja berganti bosan dan jabatan mungkin saja beralih tangan. 

Tidak pernah terpikir sebelumnya kemungkinan diriku memegang sebuah jabatan penting di sana.

” Aku hanyalah pendatang baru, akupun tak punya ketertarikan untuk duduk di kursi pemangku kebijakan yang terkait dengan hajat hidup orang banyak. Aku cuma “nunut mulang” (numpang ngajar). Bukannya aku tak punya loyalitas untuk bermanfaat bagi kantor ke dua, aku bersedia berjuang untuk kantor ke dua ini, tapi dengan kapasitas sebagi pendidik saja bukan untuk jabatan lain. Aku tidak mau dan aku tidak mampu. Begitu yang sempat aku katakan saat aku harus mengikuti seleksi calon pejabat di sana. 

Tidak tahu bagaimana ceritanya, penolakan itu tidak dihiraukan, jabatan itu berpindah ke tanganku. Ada kesalll, ada takut, ada marah!!! Dan ada sedikit rasa ingin pergi. 

Beberapa menasehati, bahwa ini amanah, yang artinya aku dianggap mampu. Katanya ” diniati ibadah ” ( ini agak menenangkan ). Beberapa meledek, dan jujur aku kesal.😫😫😫

Kata ibuku ” bekerja yang ikhlas, diniati ibadah, mungkin sudah jalannya ” Beberapa minggu aku mencoba menjalani apa yang dibilang amanah ini. Satu persatu kerikil2 tajam bisalah terlewati, walupun menyisakan luka-luka kecil, namun bisalah terobati. 

Tapi lama-lama bukan lagi kerikil , jalan bergelombang, batu besar..ahhh berat rasanya. Aku jadi kehilangan waktu dan kebiasaan, dan satu lagi kelas kimia yang dahulu jadi alasaan kenapa aku sampai jauh-jauh ke sana dan  bertahan sampai saat ini, sekarang jadi sering aku tinggalkan demi mengurus urusan yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Aku jadi kehilangan rasaku yang dulu membuat aku betah di sana. Sekarang yang sering terasa adalah rasa lelah. 

Rasa lelah yang terus menerus terasa, lama kelamaan akan berubah menjadi rasa tidak betah 

Author:

Tidak banyak yang saya minta hanya sebuah pengertian saja..

6 thoughts on “Kantor ke dua ( Part 1 )

  1. aku juga pernah seperti itu, dipindahkan ketempat yang lebih enak kalau dilihat dari kebanyakan orang…
    tapi beban yang harus dipikul juga berat walau kerjaannya lebih banyak naganggurnya..
    awalnya sih agak gak enak juga, sempat nggak kerasan, tapi aku coba cari jalan keluar bagaimana bisa menikmati setiap pekerjaan..
    intinya seperti yang dikatakan ibunya oktin, jalani aja, pasti semua itu ada hikmahnya

    Like

      1. hmmm, yah mau gimana lagi..
        pekerjaan yang menyenangkan adalah pekerjaan yang membuat kita bahagia, biarpun berat terasa..
        entahlah, 🙂
        yang jelas, jangan lupa bahagia

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s