Setiap Sabar Akan Terbayar, Setiap Ikhlas Akan Berbalas

Ketika dunia begitu sadis…tak perlu menangis..apalagi ikutan sinis…cukup tersenyum manis dan tetap optimis.

Begitulah aku menghibur diri setelah mendapatkan shock terapi yang cukup lumayan hari ini. Menduduki jabatan baru bisa jadi juga mengundang masalah baru yang dahulu tak pernah bersinggungan denganku.

Mengemban sebuah amanah yang tak mudah di mana ada tanggung jawab memikirkan kepentingan banyak orang sampai terkadang mengabaikan rasa lelah diri sendiri. Kupikir sebuah kerja ikhlas penuh totalitas bisa menjadi jaminan semuanya akan berjalan lancar tanpa hambatan atau hujatan. Ternyata tidak demikian, niat baik tak selalu bisa dipahami dengan baik oleh setiap orang. apalagi jika berhadapan dengan hati yang trauma karena mungkin pernah tersakiti. 

Hati seperti ini akan sulit dipahami. Ibarat tangan yang tertusuk duri, durinya ini tertinggal,  jadi siapapun yang datang menjabat tangan, yang dia rasakan adalah sakit tertusuk duri. Tak peduli orang itu mengajak bersalaman ataupun mngajak bermusuhan tetap saja yang dia rasakan adalah sakit tertusuk duri. Entah siapa yang meninggalkan duri di tangannya, sehingga siapapun yang datang ingin mengajak bersalaman dianggapnya menusukkan duri dan menyakiti. 

Tanggung jawab yang diamanahkan padaku saat ini mengaharuskanku untuk “menjabat tangan semua orang”. Tapi uluran jabat tangan dariku mungkin terdeteksi sebagai sebuah ancaman tesendiri sehingga harus diantisipasi dengan sedemikian teliti. Demikian pula saat aku menyampaikan informasi yang kemudian dikoreksi. Hal ini langsung dianggap sebagai sebuah kesengajaan dengan motif ingin merugikan. Tanpa terlebih dahulu mendengarkan penjelasan, atau menanyakan kronologi kejadian langsung saja kekesalan diikuti nada sinis terdengar begitu sadis. Tanpa peduli sakitkah hati orang yang menerima perkataannya, kalimat satire terus saja mengalir.  Kupikir hal seperti ini hanya terjadi di serial FTV, dan kukira pula bersikap sabar atas tuduhan salah alamatpun semudah di FTV. Tapi ternyata kehidupan tak seperti FTV di mana masalah dan solusi selesai dalam satu episode, tokoh protagonis yang awalnya kalahpun bisa menjadi menang dari tokoh antagonis dalam satu kali episode pula.

Source by google

Entah di episode ke berapa dalam kehidupan ini tokoh protagonis mendapati permintaan maaf dari tokoh antagonis.Entah di episode ke berapa segala kesalahpahaman bisa diklarifikasikan, kemudian saling memaafkan.

Dan dalam ketidaktahuan dan ketidakpastian itu ada sebuah keyakinan bahwa penulis skenerio kehidupan jauh lebih hebat dari penulis skenario FTV. Tidak akan ada yang luput dari perhatiannya, semua akan adil di tanganNya. 

Setiap istighfar dalam sabar kelak akan terbayar. Dan setiap ikhlas akan berbalas.

Dalam hati kupinta pada Nya 

Bila sabar dan ikhlas begitu mahal, berikanlah aku hati yang kaya agar mampu memilikinya”

Author:

Tidak banyak yang saya minta hanya sebuah pengertian saja..

2 thoughts on “Setiap Sabar Akan Terbayar, Setiap Ikhlas Akan Berbalas

  1. “Ketika dunia begitu sadis…tak perlu menangis..apalagi ikutan sinis…cukup tersenyum manis dan tetap optimis.” ah ini yang di status WA tadi yah..
    Dunia tidak sesadis itu kok, cuma manusianya aja yang sadis. hihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s