AKU MINTA PERINGKAT, ALLAH BERI SAHABAT..

Sumber dari Google

Masih di moment Idul fitri yang dipenuhi dengan silaturahmi. Kali ini silaturahmi dengan teman SMP. Tak semuanya memang, karena keterbatasan waktu dan kesibukan masing-masing sehingga hanya beberapa yang bisa bertemu. Pertemuan dengan teman-teman SMP mengingatkanku pada masa putih biru. Sungguh aku bersyukur ditempatkan di kelas yang sama dengan mereka. 

Berada di kelas yang sama dengan mereka bukanlah permintaan dari diriku, tapi pemberian dari Yang Maha Baik, dan Maha Mengerti. Ada campur tanganNya  yang sempat aku kira sebuah hukuman, tapi ternyata bagian dari rencanaNya memberi yang aku butuhkan. 

**

Prestasiku di masa sekolah dasar terbilang biasa. Aku lebih sering menduduki peringkat ke empat atau lima dari sekitar dua puluh lima siswa di kelas. Sempat aku berada di peringkat 3 bahkan 2, tapi tergeser juga oleh mereka yang luar biasa sehingga aku kembali di posisi 4. Tidak terlalu buruk sebenarnya, tapi di sekolahku dulu mereka yang mendapat perringkat  1 sampai 3 selalu dipanggil namanya, dan diberi reward minimalis (buku dan alat tulis)berdiri  di hadapan seluruh siswa dan wali murid yang datang. Semua yang hadir bertepuk tangan mengapresiasi mereka yang mendapat peringkat 3 teratas dari semua kelas. Aku lebih sering menjadi siswa yang bertepuk tangan untuk mereka yang peringkatnya di atasku. Sampai akhirnya aku duduk di kelas 6 harapan untuk disebut namanya dan diberikan tepuk tangan itu muncul. Khusus untuk kelas 6 biasanya sekolah memberikan penghargaan tidak hanya untuk 3 besar, tapi 5 besar. Seolah hati kecilku berbisik “ nanti kalau kelas 6, aku akan  masuk golongan anak-anak yang terpanggil , bapak/ibu ku berdiri di belakangku dan menerima ucapan selamat “. 

Aku belajar sungguh-sungguh untuk menghadapi serangkaian ujian waktu itu. Nilai yang pertama kali keluar adalah nilai latihan ujian. Bentuk soalnya pilihan ganda dan isian, nilaiku berada di peringkat 3 dari 25 siswa. Ahh senang sekali rasanya. Harapan untuk masuk di SMP favorit semakin besar, dan peluang untuk menjadi golongan anak-anak yang terpanggil juga semakin dekat.  Jelang ujian kelulusan ada perubahan peraturan, di mana soal yang biasanya terdiri dari 2 jenis yaitu pilihan ganda dan isian diganti menjadi soal pilihan ganda saja. Teman-temanku bersorak, katanya “ngga usah pusing mikir dan nulis banyak tinggal milih saja”. Entah kenapa waktu itu aku ada sedikit keraguan dengan model soal pilihan ganda, feelingku tidak terlalu baik untuk memilih aku lebih suka menuliskan apa yang aku pikirkan. 

Benarlah ternyata… ketika hasil ujian diumumkan hampir semua teman-temanku mendapatkan nilai lebih tinggi dari nilai latihannya. Hanya aku yang mengalami penurunan nilai walaupun tak banyak. Dengan nilai itu aku masih yakin bisa diterima di SMP favorit yang aku inginkan, tapi…..peringkat berapa aku???

Kuurutkan nilai teman-teman satu kelas…AHHHHHH..PERINGKAT 6. Astaghfirullah..kenapa harus peringkat 6. Gerutuku dalam hati 

Kenapa Allah kasih aku peringkat 6, padahal aku sudah belajar,iya memang aku kadang keliru dalam memimilih sesuatu yang tidak aku tahu, sehingga sulit menjawab soala pilihan ganda, tapi aku sudah belajarr!!! Kenapa harus rangking 6 !!!

Aku sempat ingin menangis..tapi aku tahan. Aku mencoba tersenyum ringan ketika bu guru memanggil dan mengumumkan nama-nama siswa peringkat 1 sampai 5. Kutegakkan kepala sambi bertepuk tangan pertanda senang atas prestasi mereka. 

Sistem pendafataran di SMP menggunakan nilai ujian akhir yang selanjutnya dirangking. Siswa yang rangkingnya lebih dari kapasitas sekolah otomatis tidak diterima.  Sampai di hari pendaftaran terakhir , nilaiku masih sangat cukup untuk diterima, aku lega. SMP ku ini juga menggunakan nilai ujian akhir SD sebagai dasar pengelasan. Kelas F adalah kelas level 1 di mana yang masuk di kelas itu adalah anak-anak dengan nilai tertinggi 40 besar teratas. Dua orang teman yang satu SD dengan ku masuk kelas itu, mereka yang di SD dulu masuk peringkat 1 dan 2. Kemudian kelas E kelas level 2, 40 teratas berikutnya. Dua orang teman SD ku juga ada di kelas itu, yang dulu peringakat  4 dan 5. Dan aku yang dulu di SD peringkat 6, hanya bisa masuk di kelas D, kelas level 3 sendirian tanpa teman satu SD. Teringat lagi sedih sebelumnya.. “ seandainya nilaiku lebih tinggi, aku bisa ada di kelas F atau E “.

Begitulah kelakuanku yang tak tau apa-apa. Tak pernah kupikir bahwa ALLAH telah mnyiapkan yang lebih baik dan lebih aku butuhkan. 

Tiga bulan berlalu sebagai siswa baru, aku mulai kerasan meski semuanya adalah teman baru.  Aku berhasil masuk jadi pengurus OSIS atas dukungan mereka. Kelas kami terkenal sebagai kelas yang paling kompak. Yaa.. aku memang menyukai organisasi, aku juga nyaman sekali dengan suasana kelas yang penuh kebersamaan dan kekompakan. Satu tahun dipisahkan dengan mereka selama kelas 2, kemudian dibersamakan kembali di kelas 3 membuat kekerabatan menjadi semakin lekat. Ini yang tak kulihat dari teman-temanku yang berada di kelas lain. Bahkan setelah lulus dari SMP kami masih sering berkumpul, menceritakan keadaan sekolah yang baru. Benar-benar sudah seperti kerabat. 

Sumber dari Google

Dari sinilah akau mulai tersadar, bahwa Allah menempatkanku di peringkat 6 bukan tanpa alasan. Andai Allah menuruti inginku untuk masuk 5 besar, mungkin aku akan senang karena terpenuhi harapan diberikan penghargaan dan tepuk tangan di hadapan banyak orang. Tapi tentu saja aku tak akan masuk di keluarga besar kelas D.  Dan hari ini aku bisa berkata, teman-temanku di kelas D lebih berarti daripada sekedar penghargaan masuk 5 besar di SD dulu.

Sumber dari Google

Begitulah ALLAH selalu mengertiku lebih dari diriku sendiri, sehingga DIA memberi apa yang aku butuhkan bukan apa yang aku inginkan. Aku lebih membutuhkan teman-temanku di kelas D daripada penghargaan dan tepuk tangan di hadapan semua orang. Sampai sekarang mereka tidak hanya menjadi sahabat, tapi seperti keluarga dekat. Jika ada salah satu dari kami yang sakit, yang lainnya tidak akan menyampaikan SMS atau BBM dengan kalimat “ GWS ya..” tapi langsung datang ke TKP bikinin teh anget, mijitin, atau minimalnya datang menghibur. Kalau ada yang menikah atau punya hajat, yang lain tidak akan datang jadi tamu dan bawa kado yang besar. Tapi datang sebelum hari H untuk ikut membantu dan menyiapkan segala keperluan kalau di sini namanya “ rewang”. Begitulah kami bersahabat, sudah seperti kelurga dekat, semoga indah sampai Jannah.

Source by Google
Advertisements

Author:

Tidak banyak yang saya minta hanya sebuah pengertian saja..

7 thoughts on “AKU MINTA PERINGKAT, ALLAH BERI SAHABAT..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s